Posted 4 days ago

ini dini hari

Ini dini hari.

Aku ingat harus menculikmu di banyak waktu. Sembunyi-sembunyi dari intaian rutinitas. Yah, usaha mengembalikan kejernihan berpikir. Membiarkanmu menyendiri dan mengevaluasi jam-jam repotmu. Kamu idealis sekali. Harus selalu ada perbaikan, begitu kan?

Ini dini hari.

Kala itu sambil menunggu jemuran yang belum mengering, aku tahu apa yang ingin kamu sampaikan pada langit. Kamu kebingungan. Berusaha mendisiplinkan diri dalam banyak hal, dan kamu kewalahan. Lalu seperti biasa, semua kata yang ingin diceritakan, menguap. Soal belanja, soal belajar, soal hati, soal Dia.

Ini dini hari.

Suaramu mulai serak. Ah, sudah musim hujan ternyata. Aku menatapmu yang masih tegak duduk di depan layar. Usahamu sudah bagus. Pelan-pelan dulu. Kamu butuh waktu. Kalau perlu, milikku akan kuberi. Jadi, jangan menangis. Nanti saat kuliah, kamu akan mengantuk lho.

Ini dini hari.

Lagu ini sudah berputar empat kali. Besok, mungkin matahari tidak bersinar dulu. Tuhan sedang senang, makanya hujan. Jadi jangan lupa melipat jas hujan. Kamu akan membutuhkannya di perjalanan.

surabaya, saat dini hari. 150414.

Posted 4 days ago

ukuran cinta

M : Jadi aku pingin ngompori, halah udah gak dateng lho gak papa. Didi juga gak nyambangi kamu di Depok.

D : Iya bilango gitu aja.

M : Tapi mungkin besar cintanya padamu mengalahkan segalanya.

D : Duh. Aku gak biasa dikasih cinta yang besar. Aku akan kewalahan membalas.

WA suatu hari dengan oknum M. Semoga oknum A yang kami maksud tidak pernah mengirim cinta sebesar bisa mengalahkan segalanya.

Posted 2 weeks ago

Para Kanda Sejati

muamarsalim:

Saya teramat malu sendiri sebenarnya membaca baris-baris kicauan ustadz Salim A. Fillah ini. Jika di akhir pernyataannya, ustadz Salim merasa jauh dari persona Kanda Sejati, lantas bagaimana dengan saya yang tidak ada apa-apanya ini. Allah, kuatkanlah kami.

Para Kanda Sejati

1) Para kanda…

Posted 2 weeks ago
Surga yang dipinta dalam do’a tak berbeda. Muslim Rohingya menukarnya dengan tangisan, sementara kita menangis karena putus pacaran.
Surga yang dimaksud serupa, namun anak-anak Gaza membelinya dengan hafalan, sementara anak-anak kita diajarkan nyanyian.
Surga yang didamba persis, namun militan Syiria meraihnya dengan sahid, smentara kita sedekah saja pelit, sebagian muslimah kenakan hijab rapi saja berat.
Surga yang didamba sama, namun mujahid Palestina meraihnya
dengan jihad, sementara sebagian kita tilawah saja ditunda-tunda, serta sholat diakhirkan.
-MI, 2014-
Status facebook mbak Annisatus Sholehah pagi ini, April 2014.
Posted 3 weeks ago
Sebelum kita bersama, intiplah setiap hari niatmu untuk membersamaiku. Karena niat itulah kurikulum belajarku kelak.
dear suami nanti :)
Posted 3 weeks ago
Aamiin ya Robb :)

source : twitter kak @bigzaman

Aamiin ya Robb :)

source : twitter kak @bigzaman

Posted 3 weeks ago

Resep anti malas dari Imam Nawawi.

source : nyaplok Fb-nya Tiara :’ 

Posted 3 weeks ago

Jika kau mau tahu siapa pemilik nomor bernama ‘Matahariku’ di hape :)

Bismillah.

Kenalkan namanya Bayu. Dulu saat kecil, dengan badannya yang gembul, dia akan pamer mengenai arti namanya.

“Nanti aku akan lari paling kencang. Aku kan angin, mbak.”

Bayu menjadi laki-laki terlama yang hidup denganku setelah Papa. Kami tumbuh dewasa dalam rumah yang sama, kamar yang bersebelahan, bahkan satu lembaga pendidikan yang sama. Ajaibnya, sedikitpun dia tidak terpapar dengan semua sifatku. Aku yang pasif, orang balik layar, penuh rencana, sistematis, perfeksionis, akan berbenturan sangat keras dengan Bayu. Dia aktif, energik, orang panggung, nggak sabaran, spontan, cuek, apa adanya.

Aku ingat sekali di suatu senja, ketika rumah kami mendung sekali dengan aura pertengkaran yang sudah disulut sejak beberapa hari, aku mulai tidak sabar. Bayu yang semakin besar, sifat sikapnya semakin memburuk. Dia hampir pernah minggat, hari-harinya hanya bermain playstation, ajakan lembut keras semua sama saja. Seolah dia sudah memiliki dunianya sendiri. Fase itu, fase dimana seolah dia berkata lantang,

“Aku lho pancen ngene, kon kabotan a? Ngaleh.”

Lalu senja itu aku memutuskan mengakhiri semuanya.

Hari itu cukup sejuk di rumah. Suasana hatinya terlihat cerah. Ba’da maghrib setelah Papa selesai makan dan kembali ke toko, pintu rumah kukunci. Klik. Aku menghampirinya yang sedang duduk menghadap TV. Aksi kulancarkan dengan mulai mengulas semua perbuatannya yang lalu, utamanya pada Mama dan Papa. Aku terus bertanya dengan ketidakpahaman ‘kamu kok bisa sih sampai seperti ini, seperti itu? Apa yang salah?’

Hingga pertanyaan final itu terlontar, ‘Kamu begini, nggak kasihan sama Mama Papa? Buta tuli bisu sama segala yang sudah Mama Papa lakukan? Apa sih dek yang kamu nggak paham?’

Sekuat tenaga kujaga nada bicaraku tetap di bawah. Petang ini aku harus mengalahkan Bayu dan diriku sendiri. Kutekan semuanya, aku mendorong jauh ego yang begitu ingin berlompatan keluar. Kulancarkan serangan demi serangan tenang hingga tekanan itu berubah menjadi tangisan kecil. Diantara itu semua, aku terus menatap matanya.

Bayu menengadahkan kepalanya dan kalimat pembuka itu menjadi jawaban atas semua ketidakpahaman.

“Aku lho iri sama kamu. Kamu dapet semuanya dari Papa. Kamu selalu dibela sama Mama. Kalo kita bertengkar, pernah ta aku yang menang? Semua selalu kamu mbak. Selalu kamu.”

Bayu mulai menangis. Aku terkesiap. Mendadak dunia berhenti. Sampai rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri diantara suara adzan Isya’ yang menyela percakapan hati kami.

Aku memejamkan mata sejenak. Jadi semuanya karena aku? Dan aku masih saja bertanya mengenai ketidakpahaman untuk menerjemahkan segala tingkah lakunya selama ini.

Air mata sudah kering. Aku menjawab pernyataannya dengan tawa yang pahit sekali. Aku berusaha menjelaskan se-logis mungkin bagaimana semua dugaannya tidak berdasar. Dia penting. Sepenting kerlip matanya yang juga basah karena dialog hati yang sudah kumulai petang ini.

Nada suaranya naik turun. Dia bercerita mengenai bagaimana dia di-compare tajam oleh ustadz/ustadzah di sekolah karena dia adikku. Di rumah, dia merasa mendapat perlakuan tidak adil jika berhadapan denganku. Tidak salah ketika dia memilih untuk menebalkan telinga atas semua reaksi orang sekitar. Dia sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Dialog itu diakhiri dengan baik. Kami bersepakat untuk memulai semuanya dari awal. Selesai aku meminta maaf, dia pergi dan menghilang setelah membuka pintu rumah. Menyisakan aku yang masih begitu ‘amaze’ dengan petang ini. Aku mendongak. Rupanya, Allah masih mengizinkan aku ngintip dan hadir dalam cuaca yang berusaha direkam oleh Bayu di hatinya.

Di hari kemudian aku sibuk menanyakan bagaimana respon ustadz/ustadzah di sekolah, masih di-compare apa nggak, lalu aku akan memujinya habis-habisan. Berkata padanya bahwa dia spesial sekali. Mungkin belum terlihat saja. Jadi dia harus sabar, berdoa terus, dan nurut sama Mama Papa.

Dan memang benar. Bayu BELUM menjadi SPESIAL. Setelah semua cuaca yang ia lewati saat berlayar, ia menjadi kuat. Mulai pintar membaca peta dan mengarahkan dirinya sendiri. Langit boleh badai, tapi kapalnya tidak akan karam begitu saja. Lalu suatu hari yang indah, LINE ku berbunyi. Sebuah foto yang luar biasa pecah! berada disana.

image

Aku hampir melompat karena bangga. Duh pose itu, kerennya! Mendadak matahari bersinar lebih hangat.

Adikku, Bayu, menjadi Offensive Line dalam salah satu klub Flag Football daerah Sidoarjo. Di sekolah, dia juga menjadi kiper tim futsal. Kemudian dalam perjalanannya, ia juga jatuh cinta pada fotografi. Meski Mama dan Papa sudah berkali-kali naik tensi gara-gara dia pulang malam hunting foto, Bayu kekeuh.

Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, Allah menjawab segala usaha dan doanya.

image

Mama Papa kali ini ikut melompat gembira. Alhamdulillah arek iki ketemu dalane.

Bayu memang bukan siswa sepuluh besar kelas. Bukan penghafal juz ‘amma yang handal. Bukan anak olimpiade saat SMA. Bukan anak OSIS apalagi ketua MPK. Bukan penyetrika yang rapi. Bukan tipikal anak teladan di sekolah.

Tapi dia seorang pembelajar yang tahan, Offensive Lineman yang membanggakan, kiper yang kuat, fotografer muda yang berbakat, sahabat yang loyal, koki yang hebat, dan seorang pembaca peta yang ahli. Dia tahu harus bertanggung jawab kemana untuk semua cinta pada passion-passionnya.

Lalu aku?

Oh tenang. Aku tidak mengingkari janjiku. Dalam perjalanan ini aku akan tetap mendampinginya. Melengkapi apa yang dia butuhkan. Pencuci baju yang wangi, penyetrika yang rapi, penyedia mie yang siap diminta. Sambil kucuri cerita-cerita perjalanannya diantara interaksi kami. Sambil kuterbangkan robithoh-robithoh cinta untuknya.

Allah, jaga dia untukku.

 

Surat ini spesial. Tanpa kutipan apapun. Karena mendengar namanya saja sudah seperti lagu <3

Surabaya, menjelang kepulangan Matahari.

270314

Posted 1 month ago

dennykoe:

catatanbesarku:

diaemyung:

I’m glad that you’re my mother 

"I found its really hard to earn money. I have no idea how did you and father raise me.."

belajar berpijak pada kaki sendiri

thank you :’

Posted 1 month ago

19catatanhujan:

Happiness is…